Sebagai makhluk sosial yang hidup di negara dengan masyarakat yang memiliki populasi netizen maha benar yang cukup banyak dan kritis, pernah gak kalian merasakan yang namanya dinyinyirin ? Apalagi sama tetangga. Kalau pernah, kira2 karena apa? Apakah karena kalian suka pulang kemaleman atau bahkan kesubuhan karena sebenarnya kalian ngerjain tugas di rumah temen? Apakah karena keluarga kalian dirasa kurang mampu untuk membeli barang2 berkualitas sehingga tetangga kalian mengira2, apa sih yang keluarga kalian punya sehingga kalian bisa memiliki barang bagus?
Atau, bahkan.. pernah gak sih kalian dinyinyirin karena kalian MENUNTUT ILMU? Aku punya cerita yang lebih menantang dari pada sekedar dinyinyirin tetangga cuma karena dua hal di atas.
Well, kemarin aku ketemu sama salah satu teman yang berasal dari Bima, Nusa Tenggara Barat. Kita kenal karena salah satu kegiatan kampus dan sampai sekarang alhamdulillah masih sering catch up dan saling bertukar cerita. Untuk namanya, kita sebut saja Triah.
Jujur, aku sangat suka secara pribadi berteman dengan dia. Yang aku bisa gambarkan tentang dirinya adalah, Triah merupakan seorang perempuan muda dengan semangat belajar yang tinggi. Gayanya yang polos dan apa adanya baik dalam berucap maupun berfikir membuat tiap orang yang kenal Triah akan mengerti bahwa anak ini sangat khas dan lucu. Berasal dari salah satu kampung terpelosok di Bima tidak menjadikan dirinya dan keluarganya menjadi buta akan pendidikan meskipun orang tuanya tidak sempat mengenyam pendidikan menengah. Triah dibesarkan oleh sepasang suami istri berlatar-belakang petani di kampungnya.
Perlu aku jelaskan betapa terpelosoknya kampung Triah. Pertama, Triah bilang bahwa listrik, hal paling dasar yang telah menjadi kebutuhan pokok manusia di dunia ini, baru memasuki kampungnya sekitar 10 tahun yang lalu. Yap, tahun 2010. Bukan sesuatu yang tidak lumrah untuk hal semacam itu terjadi di wilayah pegunungan, ditambah dengan jarak perkampungan antar satu dan lainnya yang berkisar 3,5 Km serta dipisahkan oleh hutan di masing2 kampung. Sedangkan untuk televisi? Triah bilang sih baru masuk sekitar 5 tahun yang lalu.
Sekarang kalian sudah bisa membayangkan betapa terpelosoknya kampung si Triah ini kan? Eits, jangan sedih dulu, masih ada satu hal lagi, wkwk. Bahkan untuk aspal, baru masuk sekitar 5 atau 6 tahun yang lalu. I know what you're thinking but, inilah yang membuat aku makin kagum sama sosok keluarga Triah.
Dengan keadaan perkampungan yang tentu saja handphone pun masih belum menjadi hal yang dibutuhkan (karena baru masuk sekitar 3 tahun yang lalu), menjadikan perkampungan Triah memiliki masyarakat dengan pemikirian yang masih relatif "terisolasi", besides, angka buta huruf di sana masih relatif tinggi. Atau paling tidak, Triah menganggap mereka demikian karena memang belum mengerti tatacara bersosialisasi dengan baik. Terlebih pada orang yang berasal dari luar kampung mereka, berbeda suku dengan mereka, apalagi yang berbeda keyakinan dengan mereka. Hal lain yang perlu kalian ketahui, bahwa di kampung Triah hanya ada SD dan SMP. Serta SMA yang 'ala kadarnya'(well, let's talk about it later).
Dengan lingkungan yang sedemikian rupa, cukup dapat memberikan gambaran kepada kita bagaimana situasi sosial yang terjadi di kampung Triah. Pada post kali ini, aku akan sedikit bercerita mengenai bagaimana tingkat kesadaran pendidikan masyarakat di sana berdampak pada keluarga Triah.
Aku masih ingat, Triah menceritakannya dengan tatapan miris waktu itu. Bukan hal yang mudah untuk menceritakan hal yang tidak menyenangkan, apalagi itu tentang keluarga kita. Triah mulai membuka ceritanya tentang ayahnya. Tentang betapa ayah Triah sangat memimpikan dan mengusahakan pendidikan terbaik untuk Triah dan ke 3 saudaranya. Seperti yang sudah aku sebutkan sebelumnya, ayah Triah memang bukanlah orang yang mengenyam pendidikan seutuhnya, namun kesadaran beliau tentang pendidikan untuk anak2nya adalah yang terbaik. Triah disekolahkan-nya ke luar kampung demi mengenyam pendidikan sekolah menengah atas yang terbaik di kabupatennya. Tidak sampai di sana, beliau juga mendukung dan merelakan anak perempuan kesayangannya itu untuk melanjutkan pendidikannya di kampus terbaik di NTB. Meski tentu saja harus berpisah sejauh 14 jam dari tempat tinggalnya, asal bisa sekolah, ayah Triah tidak apa-apa. He would call her in every single day with his old phone, and if she doesn't pick it up, he would cry, literally crying. What a sweetest man i've ever known.
Namun sebagai ayah yang bermimpi jauh tentang pendidikan anak2nya di tengah masyarakat yang bahkan tidak sadar akan pentingnya pendidikan, cobaan ayah Triah tidak hanya sampai di sana. Di usianya yang menginjak kepala 6, beliau harus menelan pahitnya sindiran dan kritik sinis dari tetangganya tentang tekadnya yang mulia. Miris memang ketika mengetahui seseorang diberi perlakuan yang tidak menyenangkan dengan penyebab yaitu tekadnya untuk BELAJAR. Sementara, banyak orang yang mampu belajar tanpa gangguan atau hambatan apapun, dan malah menyia-nyiakan kesempatan itu. But well, i could say bukan suatu yang mengagetkan jika mayoritas perkampungan Triah merasa bahwa pendidikan bukanlah hal yang penting, terlebih untuk perempuan. Mereka lebih mengagungkan pemuda yang mampu bekerja keras mengelola sawahnya sendiri daripada seorang yang hanya membuang waktu untuk ke luar daerah dan menuntut ilmu. Bagi mereka, jika ingin kaya, uruslah sawahmu.
" Ayah saya bilang, ndak apa2, yang penting kalian sekolah, nanti ilmu itu yang kalian bawa pulang untuk kalian melanjutkan hidup. Yang penting kalian tau caranya bersosialisasi.." begitu kurang lebih yang aku dengar dari Triah. Menjelaskan apa yang disampaikan ayahnya saat mengumpulkan ia dan kedua saudaranya yang lain.
Triah bukan anak yang menyia-nyiakan kesempatannya. Ia anak yang cukup tekun dan pintar. Di sekolah dasar hingga menengah pertama, ia selalu berada di urutan 3 teratas di sekolahnya. Dan memasuki 10 besar di SMA-nya. Di setiap cerita yang Triah curahkan tentang kampungnya, sedikit banyak aku masih merasa kaget sekaligus bersyukur karena aku hidup di tengah masyarakat yang mengerti nikmatnya memiliki ilmu dan merasakan bangku sekolah. Kemudian Triah kembali cerita,
"Kalo saya pulang itu, saya disindirin sama tetangga: Tuh liat, si Anu (salah satu pemuda yang seumuran dengan Triah) udah bisa bikin rumah sendiri hasil dari sawahnya, rumahnya dari batu lagi (batu-bata maksudnya).."
"Kalo saya sih ndak masalah (belum bisa bikin rumah), yang penting saya sekolah, toh mereka kan ndak tau rasanya lihat mall.." Lalu kita pun tertawa renyah bersama.
Kisah Triah adalah salah satu dari sekian banyak kisah pemuda sekaligus perempuan yang masih exist di Bumi Pertiwi ini. We could never judge anyone for anything that happened, but..
I think we can change that, dengan kesadaran kita, simpati, dan empati kita. Dengan tidak menyia-nyiakan kesempatan yang hari ini kita masih miliki.
Masih banyak hal yang ingin aku bagikan kepada kalian tentang Triah. Aku harap kita semua bisa belajar dari kehidupan yang mungkin tidak pernah kita kira ada sebelumnya seperti kisahnya si Triah. Untuk Triah (siapa tau suatu saat kamu baca), makasih banyak sudah memilih aku untuk menjadi tempat kamu berbagi cerita. Aku harap kita selalu bisa menjadi teman baik yang selalu berbagi cerita.


0 komentar: