Pernah gak sih kalian merasa gak peduli terhadap apapun yang orang pikir tentang kalian? Atau bahkan kalian merasakan itu setiap hari? Well,...



Pernah gak sih kalian merasa gak peduli terhadap apapun yang orang pikir tentang kalian? Atau bahkan kalian merasakan itu setiap hari?

Well, aku pikir untuk menjadi orang yang bodo amat-an itu gak mudah. Apalagi di jaman sekarang yang apa2 serba dikomentarin orang. Pake baju lama, dikatain. Pake baju baru dicurigain. Baik dikit ke orang dikata ada maunya, apalagi ke lawan jenis wkwk. Padahal mereka sendiri menyuruh kita untuk be humble dan be kind. 

Mostly, di saat yang seperti itu, aku berpikir kyk- kenapa sih orang2 pada segitu ngurusinnya ke hidup orang lain? Kita sama2 diberikan satu kali kesempatan untuk hidup, kenapa harus digunakan untuk mengurusi, membetulkan dan memperbaiki hidup orang lain? Why dont u just enjoy your own life, instead of ngatur apa yang harus dan gak harus orang lain kerjakan atau perbuat. 

Tidak heran, menjadi orang yang bodo amat merupakan satu2 nya cara terampuh untuk mengatasi hal2 semacam ini. Because at the end of the day, kita gak akan pernah bisa mengatur pemikiran orang tentang kita. Jadi, kita lah yang harus mengatur diri kita sendiri untuk tidak membiasakan diri merefleksikan diri kita dengan apa yang orang bilang atau pikirkan tentang kita.

But then again, bukan berarti dengan begitu kita tidak menerima kritikan. Terima kritikan dari orang yang tepat. Salah satunya adalah orang2 yang menyayangi kita. 

Sekali lagi, dapat disimpulkan bahwa menjadi orang yang bodo amat itu tidaklah mudah. Buktinya, beberapa orang membutuhkan referensi untuk menjadi bodo amat. Dan buktinya juga, beberapa orang membuat buku yang menerangkan langkah2 untuk menjadi bodo amat di jaman sekarang. Plus, bukunya menjadi best seller di pasaran. Dan itu membuktikan banget kalo menjadi bodo amat itu adalah hal yang cukup sulit untuk dilakukan di jaman sekarang. Padahal, kalo dipikir secara simple, menjadi bodo amat itu ya gampang aja. Tinggal gak mikirin apa yang orang bilang atau pikirkan tentang kita. Udahnya, jangan lagi bersosialisasi dengan orang2 yang suka gossip. Selesai.

But the thing is, ada juga nih salah satu faktor (menurut aku) yang berdampak cukup besar dan menggagalkan kita untuk menjadi bodo amat. Yaitu, INSECURE. Yup. 

Dan insecure ini, menurutku adalah akibat dari diri kita yang kebanyakan memikirkan omongan orang dan mencerna omongan mereka dan menghasilkan sebuah teori2 pembanding antar diri kita dan orang yang menurut sosial kita lebih baik dari pada bagaimana yang mereka mendeskripsikan kita.

Padahal, seorang Psikolog klinis ternama dari Universitas Toronto, Kanada bernama  Jordan B. Peterson pernah berkata, bahwa " Bandingkan dirimu dengan keadaanmu di hari kemarin, bukan dengan keadaan orang lain pada hari ini."

Singkatnya, improve your self acceptance. That's it. Ketika kamu berhenti untuk membandingkan dirimu dengan orang lain dan belajar untuk menerima dirimu dan segala kekurangannya, plus, kamu berusaha keras untuk menjadi versi terbaik dari dirimu sendiri, aku rasa menjadi bodo amat bukan suatu hal yang perlu kamu usahakan. Karena pada akirnya, kamu gak punya waktu untuk membandingkan dirimu dengan orang lain dan terlalu fokus untuk memperbaiki dirimu sendiri.

Itu dulu dari aku untuk hari ini. Have a great great day. xoxo.

       Sebagai makhluk sosial yang hidup di negara dengan masyarakat yang memiliki populasi netizen maha benar yang cukup banyak dan kritis,...

 

    Sebagai makhluk sosial yang hidup di negara dengan masyarakat yang memiliki populasi netizen maha benar yang cukup banyak dan kritis, pernah gak kalian merasakan yang namanya dinyinyirin ? Apalagi sama tetangga. Kalau pernah, kira2 karena apa? Apakah karena kalian suka pulang kemaleman atau bahkan kesubuhan karena sebenarnya kalian ngerjain tugas di rumah temen? Apakah karena keluarga kalian dirasa kurang mampu untuk membeli barang2 berkualitas sehingga tetangga kalian mengira2, apa sih yang keluarga kalian punya sehingga  kalian bisa memiliki barang bagus?

    Atau, bahkan.. pernah gak sih kalian dinyinyirin karena kalian MENUNTUT ILMU? Aku punya cerita yang lebih menantang dari pada sekedar dinyinyirin tetangga cuma karena dua hal di atas. 

    Well, kemarin aku ketemu sama salah satu teman yang berasal dari Bima, Nusa Tenggara Barat. Kita kenal karena salah satu kegiatan kampus dan sampai sekarang alhamdulillah masih sering catch up dan saling bertukar cerita. Untuk namanya, kita sebut saja Triah. 

    Jujur, aku sangat suka secara pribadi berteman dengan dia. Yang aku bisa gambarkan tentang dirinya adalah, Triah merupakan seorang perempuan muda dengan semangat belajar yang tinggi. Gayanya yang polos dan apa adanya baik dalam berucap maupun berfikir membuat tiap orang yang kenal Triah akan mengerti bahwa anak ini sangat khas dan lucu. Berasal dari salah satu kampung terpelosok di Bima tidak menjadikan dirinya dan keluarganya menjadi buta akan pendidikan meskipun orang tuanya tidak sempat mengenyam pendidikan menengah. Triah dibesarkan oleh sepasang suami istri berlatar-belakang petani di kampungnya. 

    Perlu aku jelaskan betapa terpelosoknya kampung Triah. Pertama, Triah bilang bahwa listrik, hal paling dasar yang telah menjadi kebutuhan pokok manusia di dunia ini, baru memasuki kampungnya sekitar 10 tahun yang lalu. Yap, tahun 2010. Bukan sesuatu yang tidak lumrah untuk hal semacam itu terjadi di wilayah pegunungan, ditambah dengan jarak perkampungan antar satu dan lainnya yang berkisar 3,5 Km serta dipisahkan oleh hutan di masing2 kampung. Sedangkan untuk televisi? Triah bilang sih baru masuk sekitar 5 tahun yang lalu.

    Sekarang kalian sudah bisa membayangkan betapa terpelosoknya kampung si Triah ini kan? Eits, jangan sedih dulu, masih ada satu hal lagi, wkwk. Bahkan untuk aspal, baru masuk sekitar 5 atau 6 tahun yang lalu. I know what you're thinking but, inilah yang membuat aku makin kagum sama sosok keluarga Triah.

    Dengan keadaan perkampungan yang tentu saja handphone pun masih belum menjadi hal yang dibutuhkan (karena baru masuk sekitar 3 tahun yang lalu), menjadikan perkampungan Triah memiliki masyarakat dengan pemikirian yang masih relatif "terisolasi", besides, angka buta huruf di sana masih relatif tinggi. Atau paling tidak, Triah menganggap mereka demikian karena memang belum mengerti tatacara bersosialisasi dengan baik. Terlebih pada orang yang berasal dari luar kampung mereka, berbeda suku dengan mereka, apalagi yang berbeda keyakinan dengan mereka. Hal lain yang perlu kalian ketahui, bahwa di kampung Triah hanya ada SD dan SMP. Serta SMA yang 'ala kadarnya'(well, let's talk about it later). 

    Dengan lingkungan yang sedemikian rupa, cukup dapat memberikan gambaran kepada kita bagaimana situasi sosial yang terjadi di kampung Triah. Pada post kali ini, aku akan sedikit bercerita mengenai bagaimana tingkat kesadaran pendidikan masyarakat di sana berdampak pada keluarga Triah. 

    Aku masih ingat, Triah menceritakannya dengan tatapan miris waktu itu. Bukan hal yang mudah untuk menceritakan hal yang tidak menyenangkan, apalagi itu tentang keluarga kita. Triah mulai membuka ceritanya tentang ayahnya. Tentang betapa ayah Triah sangat memimpikan dan mengusahakan pendidikan terbaik untuk Triah dan ke 3 saudaranya. Seperti yang sudah aku sebutkan sebelumnya, ayah Triah memang bukanlah orang yang mengenyam pendidikan seutuhnya, namun kesadaran beliau tentang pendidikan untuk anak2nya adalah yang terbaik. Triah disekolahkan-nya ke luar kampung demi mengenyam pendidikan sekolah menengah atas yang terbaik di kabupatennya. Tidak sampai di sana, beliau juga mendukung dan merelakan anak perempuan kesayangannya itu untuk melanjutkan pendidikannya di kampus terbaik di NTB. Meski tentu saja harus berpisah sejauh 14 jam dari tempat tinggalnya, asal bisa sekolah, ayah Triah tidak apa-apa. He would call her in every single day with his old phone, and if she doesn't pick it up, he would cry, literally crying. What a sweetest man i've ever known. 

    Namun sebagai ayah yang bermimpi jauh tentang pendidikan anak2nya di tengah masyarakat yang bahkan tidak sadar akan pentingnya pendidikan, cobaan ayah Triah tidak hanya sampai di sana. Di usianya yang menginjak kepala 6, beliau harus menelan pahitnya sindiran dan kritik sinis dari tetangganya tentang tekadnya yang mulia. Miris memang ketika mengetahui seseorang diberi perlakuan yang tidak menyenangkan dengan penyebab yaitu tekadnya untuk BELAJAR. Sementara, banyak orang yang mampu belajar tanpa gangguan atau hambatan apapun, dan malah menyia-nyiakan kesempatan itu. But well, i could say bukan suatu yang mengagetkan jika mayoritas perkampungan Triah merasa bahwa pendidikan bukanlah hal yang penting, terlebih untuk perempuan. Mereka lebih mengagungkan pemuda yang mampu bekerja keras mengelola sawahnya sendiri daripada seorang yang hanya membuang waktu untuk ke luar daerah dan menuntut ilmu. Bagi mereka, jika ingin kaya, uruslah sawahmu. 

" Ayah saya bilang, ndak apa2, yang penting kalian sekolah, nanti ilmu itu yang kalian bawa pulang untuk kalian melanjutkan hidup. Yang penting kalian tau caranya bersosialisasi.." begitu kurang lebih yang aku dengar dari Triah. Menjelaskan apa yang disampaikan ayahnya saat mengumpulkan ia dan kedua saudaranya yang lain.

    Triah bukan anak yang menyia-nyiakan kesempatannya. Ia anak yang cukup tekun dan pintar. Di sekolah dasar hingga menengah pertama, ia selalu berada di urutan 3 teratas di sekolahnya. Dan memasuki 10 besar di SMA-nya. Di setiap cerita yang Triah curahkan tentang kampungnya, sedikit banyak aku masih merasa kaget sekaligus bersyukur karena aku hidup di tengah masyarakat yang mengerti nikmatnya memiliki ilmu dan merasakan bangku sekolah. Kemudian Triah kembali cerita,

    "Kalo saya pulang itu, saya disindirin sama tetangga: Tuh liat, si Anu (salah satu pemuda yang seumuran dengan Triah) udah bisa bikin rumah sendiri hasil dari sawahnya, rumahnya dari batu lagi (batu-bata maksudnya).."

    "Kalo saya sih ndak masalah (belum bisa bikin rumah), yang  penting saya sekolah, toh mereka kan ndak tau rasanya lihat mall.." Lalu kita pun tertawa renyah bersama.

    Kisah Triah adalah salah satu dari sekian banyak kisah pemuda sekaligus perempuan yang masih exist di Bumi Pertiwi ini. We could never judge anyone for anything that happened, but..

    I think we can change that, dengan kesadaran kita, simpati, dan empati kita. Dengan tidak menyia-nyiakan kesempatan yang hari ini kita masih miliki.

    Masih banyak hal yang ingin aku bagikan kepada kalian tentang Triah. Aku harap kita semua bisa belajar dari kehidupan yang mungkin tidak pernah kita kira ada sebelumnya seperti kisahnya si Triah. Untuk Triah (siapa tau suatu saat kamu baca), makasih banyak sudah memilih aku untuk menjadi tempat kamu berbagi cerita. Aku harap kita selalu bisa menjadi teman baik yang selalu berbagi cerita.

 

halloo gals.. kali ini aku mau ngomongin tentang apa yang biasa disebut orang-orang sebagai 'Body Shaming'. ngomong-ngomong.. apa...

halloo gals.. kali ini aku mau ngomongin tentang apa yang biasa disebut orang-orang sebagai 'Body Shaming'. ngomong-ngomong.. apa ya yang terlintas dipikiran kalian ketika kalian denger kata 'Body Shaming'? Well, menurut id.quora.com, 
 
"Arti spesifik dari body shaming adalah penghinaan atau mempermalukan orang lain atas bentuk dan berat tubuh. Sebagai contoh: terlalu gemuk, kurus, paras yg buruk, paras yg indah, tinggi, pendek, dsb. Maka, kata yg tepat untuk mengartikan body shaming adalah penghinaan fisik. "

Nah loo.. jeng jeng jeng~ sekarang pertanyaannya adalah.. pernahkah kalian merasakan atau menerima body shaming dari seseorang? atauuuu bahkan kalian yang melakukan tindakan body shaming ke orang lain? 

Sebelum ngebahas tentang topik ini, aku sempet iseng dong ngetik kata "body" di Google Search, karena awalnya emang cuma berniatan untuk ngebuat konten seputar body goals. Secara, sekarang liat akun socmed selebgram kan dikit-dikit pamer 3 hal: kulit putih, muka cantik, dan tentunya.. BODY IDEAL. But... ternyaata gals,  ranking search mengenai body shaming lebih banyak dicari dengan ditandai dengan masuknya kata kunci body shaming pada urutan ke 4 Google Search untuk kata 'body'. Bahkaan, kata 'body goals' berada diurutan 2 kata kunci dibawah body shaming. hmmm.. aku pun mulai berpikir bahwa ternyata topik ini lebih menarik untuk dibicarakan dengan kalian semua.

well menurut kalian, gimana sih body shamming itu? somehow beberapa orang mengatakan hal2 seperti itu hanyalah sebuah guyonan atau candaan yang seharusnya tidak terlalu diambil pusing oleh victim nya. Atau bahkan mereka merasa bahwa apa yang mereka lontarkan kepada si victim itu adalah sebuah kenyataan yang harus dihadapi, diketahui, dipahami, or even "diubah" oleh si victim ini agar penampilannya terlihat lebih "Baik" untuk mereka. Sekali lagi, untuk-mereka. So basicly, they kinda feel like a hero to you.

WHICH IS.. "baik" pada versi ini adalah baik yang menurut masyarakat marginal tentang bagaimana mereka melihat sesuatu secara sudut pandang yang telah diatur dan sudah dilakukan secara turun temurun. ahh bingung kan?

Bagaimana bisa mereka, ups, kita.. mengharapkan penampilan orang lain sesuai dengan yang "kita" inginkan tanpa memikirkan bahwa tidak ada satupun dari manusia yang diciptakan SAMA. Bagaimana bisa kita menciptakan sebuah standar atas sesuatu yang bahkan Tuhan tidak ciptakan? Just CWMIIW, setahu aku, secara garis besar keagamaan, Tuhan mengajarkan kita tentang menyayangi dan menghargai antar makhluk-Nya dan membedakan mereka hanya dari sisi keimanannya. Bukan jabatan, kekayaan, apalagi RUPA.. yailah.

Sementara itu, beberapa orang mungkin merasa, omong kosong semacam itu hanyalah digunakan untuk saling mengeratkan dan mencairkan suasana, like w-t-fun? Could u really feel happy by using people as your joke? Even more, memakai hal yang kalian anggap sebagai "kekurangan" mereka untuk mencairkan suasana pada saat kalian merasa ingin lebih terlihat asik pada suatu komunitas? one word, STUPID. There are so many jokes, so many problems in this freakin' world to talk about and still, u choose their body shape, their skin color and all of their "imperfection" to make you look like a freakin' "people person"? well, I could tell you, there's something badly wrong with your mind and i'm pretty sure that u need more than a therapist to fix it.

Well, pada akhirnya.. kita gak akan bisa, atau mungkin akan memakan waktu yang saaangat lama untuk mengubah steriotip masyarakat dalam hal "kecantikan dan keindahan fisik". Bersyukurlah untuk kamu yang tidak pernah bermasalah dengan issue body shamming ini karena baik aku pun juga pernah menjadi korban, bahkan pelaku terhadap issue ini sebelum pada saat nya aku sadar ini adalah masalah yang "ternyata" serius untuk diperbaiki. 

Just keep it in mind : karena body shamming, seseorang harus menghabiskan waktunya untuk menangisi ketidak sempurnaannya. Karena body shamming, seseorang harus menghabiskan biaya bulanannya untuk mengubah sesuatu yang kurang indah di mata orang lain. Karena body shamming, seseorang harus bersembunyi di balik tirai kamarnya tanpa berani menghadapi tatapan orang atas tubuhnya. Karena body shamming, seseorang harus kehilangan kepercayaan dirinya untuk menunjukkan bakatnya. Karena body shamming, seseorang harus kehilangan orang yang ia cintai terbaring di atas meja operasi, tergantung pada tali di lehernya, atau tergeletak pada lantai dingin di kamarnya dengan luka sayat di tangan. Karena body shamming, seorang idol harus menahan lapar dan menyiksa organ tubuhnya agar terbiasa menerima asupan terbatas. Karena body shamming, banyak orang menjadi kurang bersyukur pada Tuhannya.

Just keep it in your mind.. in case you wanna say something bad about their body. :) with luv, HappyWoman.